Senin, 07 Desember 2020

MEMBANGUN KEMBALI PERADABAN ISLAM DENGAN ILMU (Barat sebagai Tantangan dan Ghazwul Fikri)

 Barat sebagai Tantangan dan Ghazwul Fikri

 

 

Ionia sebagai "The Cradle of Western Civilization"

Berpegang pada prinsip bahwa ilmu pengetahuan dan pandangan hidup adalah ujung tombak dan soko guru suatu peradaban, maka tantangan ekternal yang dihadapi Muslim dewasa ini adalah ilmu pengetahuan yang bersumber dari kebudayaan Barat. Barat sendiri adalah peradaban yang tumbuh dan berkembang dari kombinasi beberapa unsur yaitu filsafat dan nilai-nilai kuno Yunani dan Romawi, serta agama Yahudi dan Kristen yang dimodifikasi oleh bangsa Eropa. Memandang barat, kita dapat mengidentifikasinya pada dua periode yang dimilikinya, modernism dan postmodernisme. Dimana keduanya adalah satu bentuk protes atas tradisi Kristen dan gereja. Modernism adalah paham yang muncul menjelang kebangkitan masyarakat Barat dari abad kegelapan kepada abad pencerahan, abad industri dan abad ilmu pengetahuan. Ciri-ciri zaman modern adalah berkembangnya pandangan hidup saintifik yang diwarnai oleh paham sekularisme, rasionalisme, empirisisme, cara berfikir dikhotomis, desakralisasi, pragamatisme dan penafian kebenaran metafisis (baca: Agama).

 

Sedangkan postmodernisme adalah gerakan pemikiran yang lahir sebagai protes terhadap modernisme ataupun sebagai kelanjutannya. Postmodernisme berbeda dari modernisme karena ia telah bergeser kepada paham-paham baru seperti nihilisme, relativisme, pluralisme dan persamaan gender (gender equality), dan umumnya anti-worldview. Namun ia dapat dikatakan sebagai kelanjutan modernisme karena masih mempertahankan paham liberalisme, rasionalisme dan pluralismenya. Postmodernisme tumbuh menjadi sangat subur setelah eropa diterpa gelombang Perang Dunia I dan II yang sangat hebat menyengsarakan sebagian besar bangsa Eropa.

 

Upaya yang paling biadab yang dilakukan modernism dan postmodernisme adalah lahirnya sekularisme yang mencoba mencabut manusia dari religiusitas yang dimiliki dan dibutuhkannya menjadi hanya semata-mata rasional. Agama hanya dipandang sebagai wujud ritus. Agama boleh duduk berdampingan tetapi tak boleh mengganggu kehidupan duniawi, tidak boleh masuk politik, hokum, tata Negara dan pemerintahan.


Sedangkan ISLAM, adalah peradaban yang lahir dan tumbuh berdasarkan pada wahyu yang memproyeksikan sebuah pandangan hidup yang sempurna, yang dipahami, ditafsiri, dijelaskan dan dipraktekkan sehingga membentuk tradisi intelektual dimana ilmu pengetahuan religius dan rasional diintegrasikan dalam bangunan ilmu yang mengandung nilai-nilai dan konsep-konsep yang berguna bagi pembentukan kehidupan yang aman, tenteram dan damai.[i]



[i] Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi. Membangun Kembali Peradaban Islam 2, dalam banihamzah.wordpress.com 

 

Baca Juga:



Islam Itu Hebat, Kata Siapa?

Islam sebagai Din

Madinah Sebagai Negara Kota

Muslim dan Ahlu Zimmah

Masjid Sebagai Sumber Cahaya

Ashab al-Suffah dan Tradisi Intelektual Islam

Menyerap Ilmu dari Mana Saja

Islam Menjadi Gagasan Seni yang Orisinal

Barat sebagai Tantangan dan Ghazwul Fikri

Islamic Worldview

Kedudukan Ilmu dan Ulama dalam Islam

MEMBANGUN KEMBALI PERADABAN ISLAM

 



Saran Bacaan untuk Anda

Adab Murid dan Guru

Oleh: سعيد حوى   Murid memiliki adab dan tugas (wazhifah) lahiriyah yang banyak, di antara abab dan tugas seorang murid adalah tidak b...

Postingan Terpopuler