Barat sebagai Tantangan dan Ghazwul Fikri
![]() |
| Ionia sebagai "The Cradle of Western Civilization" |
Berpegang pada
prinsip bahwa ilmu pengetahuan dan pandangan hidup adalah ujung tombak dan soko
guru suatu peradaban, maka tantangan ekternal yang dihadapi Muslim dewasa ini
adalah ilmu pengetahuan yang bersumber dari kebudayaan Barat. Barat sendiri
adalah peradaban yang tumbuh dan berkembang dari kombinasi beberapa unsur yaitu
filsafat dan nilai-nilai kuno Yunani dan Romawi, serta agama Yahudi dan Kristen
yang dimodifikasi oleh bangsa Eropa. Memandang barat,
kita dapat mengidentifikasinya pada dua periode yang dimilikinya, modernism dan
postmodernisme. Dimana keduanya adalah satu bentuk protes atas tradisi Kristen
dan gereja. Modernism adalah paham yang muncul menjelang kebangkitan masyarakat
Barat dari abad kegelapan kepada abad pencerahan, abad industri dan abad ilmu
pengetahuan. Ciri-ciri zaman modern adalah berkembangnya pandangan hidup
saintifik yang diwarnai oleh paham sekularisme, rasionalisme, empirisisme, cara
berfikir dikhotomis, desakralisasi, pragamatisme dan penafian kebenaran
metafisis (baca: Agama).
Sedangkan postmodernisme
adalah gerakan pemikiran yang lahir sebagai protes terhadap modernisme ataupun
sebagai kelanjutannya. Postmodernisme berbeda dari modernisme karena ia telah
bergeser kepada paham-paham baru seperti nihilisme, relativisme, pluralisme dan
persamaan gender (gender equality), dan umumnya anti-worldview. Namun ia dapat
dikatakan sebagai kelanjutan modernisme karena masih mempertahankan paham
liberalisme, rasionalisme dan pluralismenya. Postmodernisme tumbuh menjadi
sangat subur setelah eropa diterpa gelombang Perang Dunia I dan II yang sangat
hebat menyengsarakan sebagian besar bangsa Eropa.
Upaya yang paling biadab
yang dilakukan modernism dan postmodernisme adalah lahirnya sekularisme yang
mencoba mencabut manusia dari religiusitas yang dimiliki dan dibutuhkannya
menjadi hanya semata-mata rasional. Agama hanya dipandang sebagai wujud ritus.
Agama boleh duduk berdampingan tetapi tak boleh mengganggu kehidupan duniawi,
tidak boleh masuk politik, hokum, tata Negara dan pemerintahan.
Sedangkan ISLAM, adalah peradaban yang lahir dan
tumbuh berdasarkan pada wahyu yang memproyeksikan sebuah pandangan hidup yang
sempurna, yang dipahami, ditafsiri, dijelaskan dan dipraktekkan sehingga
membentuk tradisi intelektual dimana ilmu pengetahuan religius dan rasional
diintegrasikan dalam bangunan ilmu yang mengandung nilai-nilai dan
konsep-konsep yang berguna bagi pembentukan kehidupan yang aman, tenteram dan
damai.[i]
Baca Juga:
Ashab al-Suffah dan Tradisi Intelektual Islam
Islam Menjadi Gagasan Seni yang Orisinal
Barat sebagai Tantangan dan Ghazwul Fikri
Kedudukan Ilmu dan Ulama dalam
Islam
MEMBANGUN KEMBALI PERADABAN ISLAM
