Tampilkan postingan dengan label Adian Husaini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adian Husaini. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Oktober 2020

KEBODOHAN MACRON, MENYATUKAN UMAT ISLAM

Oleh: Adian Husaini

(Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia)


Foto: Daylisabah.com
 Sejarawan Mesir terkenal, Abdurrahman al-Jabarti, membuat catatan sejarah menarik tentang kiat Napoleon Bonaparte dalam menaklukkan Mesir. Ketika itu, tahun 1798, Napoleon datang dengan 36.000 pasukan diangkut dalam 400 kapal. Napoleon, tulis Jabarti, menyebarkan panflet kepada rakyat Mesir.

 

Isinya menarik. Diawali dengan ungkapan “Bismillaahirrahmanirrahiim. Laa ilaaha illallah, laa walada lahu, wa laa syariika fii mulkihi.” (Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Tidak ada tuhan selain Allah. Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu dalam Kekuasaan-Nya.)

 

Tak hanya itu, Napoleon juga mengaku taat beribadah kepada Allah SWT dan mengagungkan Nabi Muhammad saw serta al-Quran yang agung. Bangsa Perancis dikatakannya merupakan orang-orang Muslim yang taat, yang telah menyerbu Roma dan menghancurkan Tahta Suci, serta menaklukkan pasukan Kristen di Malta. (Lihat: Napoleon in Egypt: Al-Jabarti’s Chronicle of The French Occupation, 1798 (translated by Shmuel Moreh), (Princeton: Marcus Wiener Publishing, 1993).

 

*****

 

Pada 26 Oktober 2020, situs Republika online menurunkan judul berita: “Macron Hina Islam, Produk-Produk Prancis Diboikot!” Berbagai pernyataan dan sikap Presiden Emmanuel Macron tentang Islam, telah memicu kemarahan umat Islam seluruh dunia. Dukungannya terhadap pembuatan kartun Nabi Muhammad SAW dinilai sangat keterlaluan.

 

Menyusul kelakuan Macron, berbagai perusahaan di Timur Tengah dan Turki mengumumkan pemboikotan terhadap produk-produk Perancis. Di Kuwait, ketua dan anggota dewan direksi Perkumpulan Koperasi Al-Naeem memboikot semua produk Prancis dan mengeluarkannya dari rak supermarket. Lalu, Asosiasi Dahiyat al-Thuhr mengambil langkah yang sama.

 

"Berdasarkan posisi Presiden Prancis Emmanuel Macron dan dukungannya terhadap kartun ofensif terhadap nabi tercinta kami, kami memutuskan untuk menghapus semua produk Prancis dari pasar dan cabang sampai pemberitahuan lebih lanjut."

 

Di Qatar, perusahaan Wajbah Dairy mengumumkan boikot produk Prancis dan berjanji untuk memberikan alternatif mereka. Dewan Kerjasama Teluk (GCC) menggambarkan pernyataan Macron sebagai tindakan tidak bertanggung jawab dan mengatakan itu bertujuan untuk menyebarkan budaya kebencian di antara masyarakat. Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) juga mengutuk pernyataan Macron. Kecaman terhadap Presiden Perancis juga mengalir dari berbagai penjuru dunia.

 

Dendam abadi!

 

Sikap anti Islam begitu mudah muncul di Eropa dan belahan dunia Barat lainnya. Sikap itu kadang sengaja dibangkitkan oleh kalangan tertentu, dengan beberapa tujuan:

1. Sebagai bagian dari upaya untuk menyatukan Eropa (juga masyarakat Barat) kembali sebagai satu kekuatan Kristen sebagaimana terjadi dalam Perang Salib yang dimulai tahun 1095, dan

2. Upaya mengalihkan dukungan masyarakat Eropa terhadap perjuangan Palestina,

3. Kepentingan dukungan politik dalam negeri negara tertentu.

 

Dunia Barat kini sedang menghadapi berbagai krisis dan keterbelahan sikap. Dalam sejarah, mereka belum pernah bersatu, kecuali saat menghadapi Islam. Itulah yang dilakukan Paus Urbanus II saat menggalang kekuatan Kristen, dalam Perang Salib. Dalam pidatonya, tahun 1095, Paus menyatakan, bahwa bangsa Turki (Muslim) adalah bangsa terkutuk dan jauh dari Tuhan. Maka, Paus menyerukan, “membunuh monster tak bertuhan seperti itu adalah suatu tindakan suci; adalah suatu kewajiban Kristiani untuk memusnahkan bangsa jahat itu dari wilayah kita.” (Lihat: Karen Armstrong Holy War: The Crusades and Their Impact on Today’s World, (London: McMillan London Limited, 1991).

 

Tahun 1187, Shalahudin al-Ayyubi merebut Jerusalem. Tetapi, sukses Shalahuddin itu memicu dendam tiada akhir. Saat merebut Syria dari Turki Utsmani, Jenderal Geraud dari Perancis memasuki Masjid Umayyad di Damaskus. Di situ, ia menendang makan Shalahudin, sambil berteriak: “Saladin, wake up! We are back!” (Saladin, bangun! kami kembali!). (Tentang cerita Jenderal Geraud di makam Saladin, lihat, Serge Latouche, The Westernization of the World, (Cambridge: Polity Press, 1996).

 

Juga, patut dicatat, menurut Samuel Huntington – dalam buku terkenalnya, The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order, Islam memang satu-satunya peradaban dan kekuatan yang pernah menaklukkan Barat. Islam pernah menduduki Spanyol selama sekitar 800 tahun (711-1492). Islam pernah menaklukkan Ibu Kota Romawi Timur (Konstantinopel) tahun 1453. Islam pernah mengepung Vienna – yang menjadi jalan penaklukan bagian Eropa lainnya – selama dua kali (1529 dan 1683). Dan Islam juga akhirnya memenangkan Perang Salib yang berlangsung hampir 200 tahun.

 

Hingga kini, di Eropa dan kalangan Kristen Barat pada umumnya, sejarah lama itu begitu mudah digunakan untuk menimbulkan kebencian atau sentimen anti-Islam. Di Amerika, serangan Jepang terhadap Pearl Harbour tidak menimbulkan sentimen anti-Jepang. Meskipun begitu banyak warga keturunan Hispanik yang melakukan aksi terorisme, tetapi tidak muncul gelombang anti-Hispanik di Amerika. Tetapi, begitu dalam peristiwa WTC 11 September 2001 dimunculkan wajah-wajah Arab sebagai pelakunya, maka terjadi gelombang sentimen anti-Islam dan anti-Arab di mana-mana.

 

Sikap Presiden Macron terhadap Islam menunjukkan cerita lama tentang dendam abadi kaum Kristen Barat terhadap Islam. Sikap ini sekaligus menunjukkan kebodohannya terhadap Islam. Peristiwa pelecehan Nabi Muhammad saw di Denmark, Perancis, dan sebagainya, begitu menyakitkan hati kaum Muslim sedunia, sehingga ada yang sampai tidak dapat menahan kesabarannya.

 

Tetapi, di samping itu, kaum Muslim patut mengucapkan “terimakasih” kepada Macron dan para penghujat yang bodoh itu. Sebab, kasus ini membuktikan kebenaran al-Quran al-Karim:

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لا يَأْلُونَكُمْ خَبَالا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ

 

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu, orang-orang yang berada di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya menimbulkan kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (QS Ali Imran: 118).

 

Jadi, terimakasih Macron. Karena kebodohan Anda, umat Islam sedunia kini bersatu! (Bandung, 27 Oktober 2020).








INSYAALLAH, BEGINILAH CARA ‘PERSATUAN ISLAM’ JADI ORGANISASI HEBAT!

Oleh: Dr. Adian Husaini

 

Pada Hari Selasa (27 Oktober 2020), saya mendapat undangan acara bedah buku – via Zoom -- berjudul “Persis di Era Millenium Kedua”, karya Prof. Atip Latipulhayat et al.. Pembicara lainnya adalah: Prof. Syafiq Mughni, Prof. Hamdan Zoelva, Dr. Chalil Nafis, dan Prof. Dadan Wildan.

 

Buku “Persis di Era Millenium Kedua” merupakan kumpulan tulisan yang secara umum memuat gagasan untuk kemajuan Persis (Persatuan Islam). Ormas Islam ini pada tahun 2023 akan memasuki usia 100 tahun. Diharapkan, Persis akan melompat untuk meraih kemajuan.

 

Pada kesempatan itulah saya menawarkan sejumlah gagasan praktis agar Persis menjadi organisasi yang hebat; menjadi organisasi Islam terdepan! Dalam usianya yang ke-97 tahun ini, Persis telah menorehkan banyak prestasi dalam dakwah Islam di Indonesia. Ke depan, Persis harus menjadi teladan dalam berbagai pemikiran dan bentuk aktivitas dakwah, baik dalam pendidikan, sosial, ekonomi, hukum, politik, dan lain-lain.

 

Pada saat yang sama, Persis harus membangun rasa percaya diri dan bangga dengan pemikiran dan keyakinannya, serta tidak perlu “terlalu dalam” berkutat dalam diskursus pemikiran yang kurang bermanfaat. Tetapi, Persis tidak boleh menutup diri dari berbagai pemikiran besar. Justru, Persis perlu menghimpun dan memilih pemikiran-pemikiran terbaik dari para ulama dan pemikir besar, sebagai bekal melangkah ke depan.

 

Saya menyarankan agar Persis lebih mengedepankan kualitas, ketimbang kuantitas. Anggota dan jamaah Persis saat ini sudah jutaan jumlahnya. Itu potensi yang sangat besar, jika dibina dan diberdayakan seoptimal mungkin. Tentu saja, jumlah besar dan berkualitas lebih bagus. Tetapi, jika harus memilih, maka menurut saya, kualitas lebih penting!

 

Jadi, Persis tidak perlu terlalu resah diplesetkan singkatannya menjadi “Persatuan Islam Sunda”. Penduduk Jawa Barat saat ini sekitar 50 juta orang. Jauh lebih besar dari penduduk Malaysia ditambah Singapura dan Brunei Darussalam. Dalam kunjungan saya ke berbagai kota dan desa di Jawa Barat, masih banyak masyarakat Jawa Barat yang memerlukan sentuhan dakwah Islam.

 

Persis pun tak perlu risau dengan label-label tertentu yang disematkan oleh para peneliti atau pengamat keagamaan, seperti label “konservatif”, “puritan”, “kolot”, “ormas fiqih” dan sebagainya. Karena itu, Persis juga tidak perlu berambisi untuk disebut sebagai organisasi yang progresif dan maju, yang dengan itu lalu meninggalkan prinsip-prinsip ajaran Islam.

 

Yang perlu dilakukan adalah menjawab pelabelan-pelebalen itu dengan karya intelektual maupun karya nyata dalam berbagai bidang kehidupan. Dalam banyak hal, Persis telah melakukan ini dengan baik.

 

Pendidikan Tinggi
Secara khusus, saya menawarkan gagasan, agar Persis membangun suatu Perguruan Tinggi Islam 
terbaik di Indonesia. Perguruan Tinggi ini harus benar-benar menerapkan konsep universitas Islam ideal. Di sinilah nantinya dilahirkan kader-kader ulama dan cendekiawan muslim yang hebat. Mereka bukan hanya mampu memimpin Persis, tetapi mampu memimpin Indonesia!

 

Caranya sederhana. Hanya tiga langkah saja: (1) Rumuskan konsep pendidikan tinggi ideal, (2) rekrut dosen-dosen dan mahasiswa terbaik (3) cari dana dan lokasi yang ideal! Itu saja. InsyaAllah, Persis mampu untuk itu.

 

Sebenarnya, Persis telah memiliki modal pendidikan ideal. Model Pendidikan Tinggi Persis itu pernah melahirkan orang-orang hebat seperti Mohammad Natsir, Ustadz E. Abdurrahman, KH Isa Anshary, dan sebagainya.

 

Ada dua disertasi doktor pendidikan Islam di Universitas Ibn Khaldun Bogor yang menelaah konsep pendidikan ideal di lingkungan Persis. Yaitu, disertasi Doktor Syarif Hidayat berjudul “Konsep Pendidikan Berbasis Adab A. Hassan” dan Disertasi Doktor Dwi Budiman yang berjudul “Konsep Pendidikan Kader Ulama E. Abdurrahman”.

 

Meskipun pendidikan formalnya hanya setingkat SMA, Mohammad Natsir telah menjalani proses pendidikan ideal, sampai ke jenjang pendidikan tinggi. Pak Natsir mengaku ada tiga guru yang sangat berpengaruh pada dirinya, yaitu A. Hassan, Syekh Ahmad Soorkati, dan Haji Agus Salim.

 

Pak Natsir bukan hanya mampu memahami hakikat pendidikan dan merumuskan konsep pendidikan ideal, tetapi ia kemudian menjadi pelopor dalam pendirian sejumlah Perguruan Tinggi Islam di Indonesia. Tujuh tahun sebelum Sekolah Tinggi Islam (STI) berdiri, Pak Natsir sudah menulis makalah berjudul “Sekolah Tinggi Islam”. Pak Natsir adalah sekretaris panitia pendirian universitas Islam pertama di Indonesia itu. Ketuanya, Bung Hatta.

 

Indikator utama Perguruan Tinggi Islam ideal adalah keberhasilannya dalam melahirkan kader-kader ulama yang memiliki kualitas keilmuan tinggi, akhlak mulia, dan kegigihan serta kebijakan dalam berjihad fi-sabilillah. Perguruan Tinggi Islam tidak boleh terjebak oleh indikator-indikator materialis-kapitalistik yang mengukur keberhasilan suatu pendidikan terutama dari segi kesuksesan duniawi. Perguruan Tinggi Islam ideal tidak menjalankan proses pendidikan yang memupuk benih-benih kecintaan terhadap dunia.

 

Mohammad Natsir adalah salah satu contoh ideal dari model Pendidikan Tinggi terbaik di lingkungan Persis. Model itu bisa dikaji, dirumuskan, dan diaktualisasikan kembali sesuai dengan konteks zaman kita. Dan Persis memiliki potensi intelektual yang melimpah untuk melakukan proyek besar ini.

 

Begitulah sejumlah gagasan dan saran untuk kebaikan dan keunggulan Persis di masa mendatang. InsyaAllah, para pimpinan dan intelektual Persis memiliki potensi untuk menjadikan Persis sebagai organisasi Islam teladan. Tapi, lagi-lagi, kuncinya ada dua: TAHU DAN MAHU!

Wallahu A’lam bish-shawab. (Depok, 28 Oktober 2020).

*****


Saran Bacaan untuk Anda

Adab Murid dan Guru

Oleh: سعيد حوى   Murid memiliki adab dan tugas (wazhifah) lahiriyah yang banyak, di antara abab dan tugas seorang murid adalah tidak b...

Postingan Terpopuler