Tampilkan postingan dengan label Adakah Tuhan?. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adakah Tuhan?. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Juli 2024

RIWAYAT HIDUP A. HASSAN

Beliau ini bukan dari keturunan orang sunda tapi orang menyebutnya A. Hassan. Atau orang juga sering menyebutnya Hassan Bandung, atau juga Hassan Bangil. Sekarang orang lebih mudah menyebutnya A. Hassan. Ayahnya bernama Ahmad, seorang pengarang dan wartawan yang terkenal di Singapura, yang menerbitkan beberapa surat kabar dalam Bahasa Tamil. Ibunya Bernama Haji Muznah, orang Palekat (Madras – India) tetapi kelahiran Surabaya.

A. Hassan


Ahmad dan Muznah ini menikah di Surabaya, kemudian pindah ke Singapura dan di kota inilah pada tahun 1887 lahir Putera Tunggal mereka  “Hassan bin Ahmad” atau A. Hassan.

Pada usia 7 tahun Hassan bin Ahmad ini sudah mulai belajar Al-Qur’an, Agama dan lalu masuk sekolah Melayu, belajar Bahasa Arab, Bahasa Melayu, Tamil dan juga Inggris.

Keahliannya  dalam agama terutama dalam bidang hadits, tafsir, fiqh, ushul fifh, ilmu kalam dan mantiq. Berbagai macam masalah agama dapat diajukan kepadanya dan dapat dijwabnya.

Koleksi bukunya sangat banyak yang terdiri dari berbagai lapangan ilmu. Buku-bukunya yang banyak itu dibacanya dengan teliti dan tekun, bahkan mungkin dihapalnya. Setiap masalah yang diajukan kepadanya dapat dijawabnya dan ditunjukkan pada halaman buku yang telah penuh dengan tanda-tanda yang membuktikan bahwa buku-buku itu memang dibacanya.

Di samping perpustakaannya yang besar, A. Hassan juga memiliki buku catatan sendiri yang berisi berbagai masalah lengkap dengan dalil-dalil yang disusun menjadi abjad. Catatan inilah yang selalu dibawanya sebagai pengganti buku-bukunya yang tebal-tebal.

Di masa kanak-kanaknya, A. Hassan senang sekali memperhatikan pertukangan dan membantu ayahnya di percetakan yang bisa jadi karena inilah kelak beliau mendalami masalah pertenunan dan mendapatkan ijazah di Bandung lalu hidup berkecimpung di bidang percetakan dan karang mengarang.

Dari masa remajanya, ia pernah menjadi buruh di toko lain, berdagang permata, minyak wangi, es, vulkanisir ban mobil, menjadi guru Bahasa Melayu dan Arab, guru Agama dan menulis berbagai macam tulisan di surat kabar dan majalah. Di usia mudanya pada tahun 1909, pada usianya yang ke 22, dia telah aktif menjadi pembantu “Utusan Melayu” (atau mungkin “Oetoesan Melajoe”)[1]. Tulisan pertamanya ialah membuat kritik kepada Hakim (Qadli) saat itu yang memeriksa perkara dengan cara menggabungkan tempat duduk pria dan Wanita padahal pada saat itu taka da seorang pun berani mengkritik Hakim (Qadli). Kali yang berbeda A. Hassan juga mengkritik umat Islam yang tidak maju. Namun ucapan ini dianggap politis dan membuat A. Hassan diboikot dan tidak dibenarkan lagi berpidato.

Tahun 1921, A. Hassan pindah dari Singapura ke Surabaya. Beliau berdagang tapi rugi sehingga memaksanya untuk bekerja sebagai vulkanisir ban mobil. Di kota ini ia berkenalan baik dengan para pemimpin Sarekat Islam Surabaya sekalipun ia tidak menyatakan diri menjadi anggota Gerakan itu. Di kota ini ia bersahabat baik dengan H.O.S. Cokroaminoto, A.M. Sangaji, H. Agus Salim, Bakri Suraatmaja, Wondoamiseno, dll.

Ia belajar tenun di Kediri, tapi tidak memuaskannya, hingga membuatnya pada tahun 1925 pindah ke Bandung dan mendapatkan ijazah di Bandung.

 

DI BANDUNG

Di Bandung, A. Hassan berkenalan dengan tokoh-tokoh saudagar PERSIS, diantaranya Asyari, Tamim, Zam-zam, dll.

Kepindahannya ke Bandung pada tahun 1925 ini adalah dua tahun setelah PERSIS berdiri pada tahun 1923. Seringkali beliau mengajar di pengajian-pengajian PERSIS dan banyak orang tertarik oleh pengetahuan dan kepribadiannya yang membuatnya membatalkan maksudnya Kembali ke Surabaya. Dia lalu menetap di Bandung, menjadi guru PERSIS dan tokoh terkemuka PERSIS.

Pada tahun 1936 M. (1 Dzulhijjah 1354 H.), Bersama tokoh PERSIS didirikan sebuah yang bertempat di Masjid “Persatuan Islam” di Jalan Pangeran Sumedang (Jalan Oto Iskandar Dinata – sekarang). Pengurus-pengurus dan guru-gurunya terdiri dari beberapa ikhwan yang ditaqdirkan Allah mesti berlaku “Lillah”.
Diantaranya : Al-Ustadz A. HASSAN sebagai kepala dan guru PESANTREN, dan sdr. Moh. NATSIR sebagai penasehat dan guru.

Tujuan mendirikan PESANTREN itu ialah mencetak muballighien yang sanggup menyiarkan, mengajar, membela, dan mempertahankan Agama mereka, agama Islam, dimana saja mereka berada. Pelajarannya, selain dari ‘ilmu-‘ilmu Agama, diajarkan juga ‘ilmu umum, seperti ‘ilmu pendidikan oleh M. Natsir dan tehnik oleh R. Abdulkadir (lususan Sekolah Tehnik Bandung). Pelajar-pelajar ketika itu ada sekitar 40 orang, dari beberapa daerah kepulauan Indonesia yang kebanyakannya dari luar tanah Jawa.
Diantara 40 pelajar ini, ketika di Bandung juga sebahagiannya telah dapat meninggalkan PESANTREN sebagai muballighien.

Disamping PESANTREN untuk pemuda-pemuda, diadakan pula waktu sore Pesantren untuk kanak-kanak dengan nama PESANTREN KECIL. Murid-muridnja ada sekitar 100 anak, laki-laki dan perempuan. Pelajaran-pelajarannya disesuaikan dengan kepatutan dan kebutuhan anak-anak itu.
Pekerjaan rutinnya sungguh banyak: Menjadi guru PERSIS, memberi kursus kepada pelajar-pelajar didikan barat, bertabligh setiap minggu, Menyusun berbagai karangan dan berdebat.

 

KORESPONDENSI DENGAN SOEKARNO DI ENDE

Soekarno diasingkan ke Ende, Flores pada 14 Januari 1934. Ia diasingkan di sana selama empat tahun (1934-1938). Setelah itu, ia diasingkan ke Bengkulu. Penyebab Bung Karno kembali diasingkan dan dibuang ke Ende karena kegiatan politiknya dianggap membahayakan posisi Belanda. Ir. Soekarno dan keluarganya diberangkatkan dari Surabaya menuju Flores dengan kapal barang KM van Riebeeck.

Tiga hari sebelum diberangkatkan ke pelabuhan, Soekarno bertemu ayah dan ibunya. Mereka diberi waktu kesempatan selama 3 menit untuk berpamitan. Di pelabuhan, kepergian Soekarno dan keluarganya dilepas oleh orang-orang yang berjejal-jejal berbaris dengan melambaikan bendera merah putih yang dibuat sendiri.

Dalam kondisi kesepian, Soekarno menulis naskah selama pembuangan di Ende. Dari tahun 1934 hingga 1938, ia menyelesaikan 12 naskah. Karya pertama diilhami oleh Frankenstein berjudul Dr Setan dengan tokok utama Boris Karloff Indonesia yang menghidupkan mayat dengan melakukan tranplantasi hati dari orang yang hidup. Naskah lainnya adalah Rahasia Kelimutu, Jula Gubi, Kut Kutbi, Anak Haram Jadah, Maha Iblis, Aero Dinamit, Nggera Ende, Amoek, Rahasia Kelimutu II, Sang Hai Rumba, dan 1945. Soekarno pun mendirikan perkumpulan Sandiwara Kelimutu yang namanya diambil dari nama danau tiga warna di Flores.

Selain daripada itu, Soekarno pun rajin melakukan korespondensi dengan sahabat-sahabatnya. Di antara surat yang dikirimkan Soekarno itu adalah dilayangken kepada A. Hassan (Guru PERSATUAN ISLAM) di Bandung. Tak kurang dari 12 pucuk surat dilayang Soekarno kepada A. Hassan tentang berbagai hal terutama dalam bidang Agama.

Ketika dikabarkan kepada Soekarno bahwa A. Hassan Bersama PERSATUAN ISLAM telah berhasil mendirikan sebuah pesantren, pada surat yang bertanggal 22 April 1936, Soekarno menulis:

“Kabar tentang berdirinya pesantren sangat menggembirakan saya. Kalau boleh saya memajukan sedikit usul: hendaknya ditambah banyaknya “pengetahuan barat” yang hendak dikasihkan kepada murid-murid pesantren itu…

Tuan Hassan, maafkanlah saya bila saya punya obrolan ini. Benar satu obrolan, tapi satu obrolan yang keluar dari sedalam-dalamnya saya punya qalbu. Moga-moga Tuan suka perhatikannya berhubung dengan Tuan punya pesantren. Hiduplah Tuan punya pesantren itu!"

 

PINDAH KE BANGIL

Di kediamannya, di Gang Blk. Pagade Bandung, sebuah rumah sederhana, terkenal majalahnya “Pembela Islam”. Majalah ini diterbitkan dengan kertas HVS dan menggunakan tinta biru. Pendiriannya kuat untuk tidak menerima sedekah atau bantuan orang untuk hidup. Ia juga mulai menyusun tafsir Al-Furqan dan mendirikan percetakan sendiri. Dia bekerja sendiri mulai dari menset, mencetak, menjilid dan mengoreksi, diterbitkannya dan dijualnya sendiri. Dengan hasil usahanya inilah beliau hidup.

Pendirinnya tegas memegang teguh dasar Qur’an dan Hadits, sangat hati-hati dalam agama, ahli debat yang tiada taranya, dan kritikus tajam. Dia membela agama dengan seluruh kekuatan, tidak peduli bahaya apapun yang harus dihadapi. Semboyan hidup baginya adala: “Tidak ada penghidupan yang lebih baik daripada hidup mengikuti tuntunan Agama, dan berbuat kebaikan kepada siapapun sekedar bisa dengan penuh keikhlasan.”

Tujuhbelas tahun beliau tinggal di Bandung dan selama itu ia dikenal dengan sebutan “Hassan Bandung.” Pada tahun 1941 ia pindah ke Bangil berikut percetakannya dan majalahnya. Di Bangil beliau melanjutkan perjuangannya sebagaimana dilakukannya di Bandung: Menulis buku, menerbitkan majalah dan mendirikan pesantren.

PESANTREN PERSIS itu sendiri telah berdiri di Bangil pada bulan Maret 1940. Murid-murid yang belum mendapat pelajaran yang cukup waktu di Bandung dibawa ke Bangil, untuk ditamatkan beberapa pelajaran lagi. Ketika itu tinggal sekitar 25 orang murid dan di Bangil mendapat tambahan beberapa murid dari berbagai-bagai daerah Indonesia.

Setelah PESANTREN Putera tersebut berjalan hampir setahun, lalu pada bulan Pebruari 1941 dibuka pula Pesantren Isteri, dengan sekitar 12 murid yang hampir semua dari luar Bangil. Kedua-dua bagian Pesantren tadi berjalan dengan baik. Tiba-tiba pada bulan Desember 1941 pecah perang Jepang yang menyebabkan peladar-pelajar yang dari jauh merasa gelisah, lalu masing-masing pulang ke tempat kediaman mereka. Ketika Jepang masuk pulau Jawa tahun 1942 pelajar-pelajar yang tidak sempat pulang, tinggal beberapa pelajar laki-laki. Sungguhpun demikian, 90 persen dari pelajar-pelajar Pesantren Putera sekarang, telah menjadi orang-orang yang sesuai dengan tujuan PESANTREN.
Juga diadakan Pesantren untuk kanak-kanak, dengan tujuan menjaga supaya anak-anak tidak terseret kepada pengaruh-pengaruh lain. Pesantren ini dinamakan PESANTREN KECIL (seperti di Bandung), dibawah asuhan pelajar-pelajar PESANTREN yang tidak sempat pulang tadi.

Pada tahun 1958, tepatnya pada tanggal 10 Nopember 1958, A. Hassan, Hassan Bandung, Hassan Bangil tutup usia setelah meninggalkan begitu banyak jejak kebaikan. Allahuyarhamhu. Hingga saat ini PESANTREN PERSIS BANGIL berdiri megah dan Sebagian besar santrinya tersebar dari bagian Indonesia Timur, mencetak beiribu-ribu mubalighien, buku-bukunya menjadi bahan bacaan utama dan menghiasi banyak perpustakaan.

*Dari berbagai sumber.



[1] Hanya saja dalam Wikipedia (https://id.wikipedia.org/wiki/Oetoesan_Melajoe ) disebutkan bahwa Oetoesan Melajoe (EYDUtusan Melayu) adalah sebuah surat kabar harian di Padang yang terbit pertama kali pada 2 Januari 1911. Surat kabar ini dipimpin oleh Datuk Sutan Maharadja dan dicetak oleh Pertjetakan Orang Alam Minangkabau di Pasa Gadang. Surat kabar tersebut diklaim sebagai surat kabar pertama yang dicetak oleh pribumi Indonesia.

Rabu, 17 Juli 2024

Pertanyaan yang Bermacam-macam

 Oleh: A. Hasan

Sebelum melanjutkan membaca, ada baiknya anda flashback dahulu kepada tulisan sebelumnya: Manusia Dari Tanah

A.      Saya sebagai penganut sel, hendak bertanya, apa maksud Tuhan jadikan manusia, umpamanya?

B.       Saya, sebagai orang yang percaya kepada Tuhan dan kekuasaan-Nya menjawab: Menurut pikiran, tak dapat saya katakan atau terka maksud Tuhan menjadikan manusia. Tetapi menurut Agama, bahwa Tuhan jadikan manusia tidak lain melainkan untuk menyembah-Nya dan beribadah kepada-Nya. Maka buat giliran Tuan, dapatkah Tuan terangkan kepada saya apa maksud sel-sel jadi manusia itu?



A.      Tidak dapat.

B.       Kami beranggapan dan Agama kami pun berkata bahwa semua unggas di udara, sekalian Binatang di muka bumi, segenap tumbuh-tumbuhan, setiap jenis air, segala sesuatu di laut, Tuhan telah jadikan untuk manusia menggunakannya bila mereka perlu atau mau kepaadanya. Maka buat giliran Tuan dapatkah Tuan terangkan siapa dia yang telah sediakan benda-benda itu sebelum zhahir jenis manusia di muka bumi ini?

A.      Semua terjadi sendiri dengan berevolusi dan kebetulan, bukan dengan diatur oleh siapa-siapa.

B.       Kalau kejadian-kejadian itu dikatakan kebetulan, niscaya bertemu dengan terlalu banyak kebetulan.

Sebelum ada ikan-ikan di laut, sudah ada airnya. Sebelum ada ikan, pemakan ikan, kebetulan sudah ada ikan-ikan yang lemah buat dimakan olehnya. Sebelum ada singa, harimau, serigala dan sebangsanya, kebetulan sudah ada rusa pelanduk, kancil dan lainnya buat jadi mangsa Binatang-binatang buas itu. Sebelum ada sapi, kerbau, onta, kuda, kambing dan sebagainya, kebetulan sudah ada rumput dan tumbuh-tumbuhan yang jadi bekal hidupnya.

Sebelum ada manusia, kebetulan sudah tersedia api dan air untuk keperluannya, kebetulan sudah ada gandum, padi dan sagu, udara dan Binatang-binatang di muka bumi buat jadi lauknya, kebetulan sudah tersedia untuknya pisang, jeruk, anggur, sawo, mangga, dan ratusan macam buah-buahan yang tidak kebetulan tersedia malainkan untuk manusia?

A.      Semua yang kita lihat di alam ini memanglah sudah ada Bersama Tuhan ataukah dijadikan Tuhan?

B.       Segala seluatu yang sudah ada, yang sedan gada dan yang aka nada, dijadikan oleh Tuhan.

A.      Di dalam perkataan “segala sesuatu yang ada”, termasuk juga Tuhan. Dari itu, apakah Tuhan jadikan juga dirinya sendiri?

B.       Ini pertanyaan orang yang hanya doyan bertanya dengan tidak memikirkan isi pertanyaannya. Jika saya berkata, bahwa semua orang yang di rumah ini anak dan cucu saya, apakah berarti bahwa diri saya sendiri pun dari anak dan cucu saya?

A.      Di dalam perkataan “segala sesuatu yang ada”, termasuk juga benda di ala mini diadakan oleh Tuhan dari pada tidak ada, padahal Tuan tidak mau terima pendirian kami bahwa dengan sebab evolusi terwujudlah Bintang-bintang, manusia-manusia dan ruh-ruh yang duhulunya tidak ada.

B.       Tuan mengakui bahwa sel-sel itu tidak berkuasa. Maka dapatkah akal menerima bahwa satu benda yang asalnya tidak ada tetapi dengan sebab sel-sel itu berevolusi Sahaja beberapa masa, lantas yang tidak ad aitu jadi ada?

Adapun tentang Tuhan, perkaranya tidak demikian. Tuhan bersifat “Maha Kuasa” pada mengadakan apa yang Ia kehendaki.

Hal mengadakan sesuatu dari pada tidak ada kepada ada, adalah rahasia Ketuhanan atau adalah ia satu dari hasil pekerjaan sifat “Maha Kuasa”.

Maka adanya alam dijadikan oleh Tuhan dengan segala isinya yang dahulunya tidak ada, bisa diterima dengan mudah jika dibandingkan dengan teori kaum sel, bahwa semua itu  jadi dengan sebab evolusi yang tidak mempunyai apa-apa kekuasaan, bahkan tidak pun mempunyai kemauan.

A.      Tidakkah Tuan perhatikan bahwa kepercayaan manusia kepada adanya Tuhan telah merusak dunia ini dengan nama Agama Tuhan, Perintah Tuhan, Larangan Tuhan?

B.       Pertanyaan Tuan biarlah saya jawab dengan ringkas dahulu; kemudian, bolehlah kita luaskan.

Tuan beranggapan tidak ada Tuhan. Pada azal, tidak ada lain dari sel-sel. Jiwa dan kemauan yang ada pada manusia datangnya lantaran evolusi. Dari itu, mau tak mau, Tuan mesti akui bahwa kepercayaan kepada adanya Tuhan datangnya dari evolusi, dan kerusakan di dunia datangnya dari evolusi, dan penipuan yang manusia lakukan dengan nama sel dan atom dan Agama atau Tuhan datangnya dari evolusi karena semua terjadi dari evolusi. Adapun jawaban yang sedikit Panjang ialah bahwa manusia – dengan tidak memandang penganut sela tau penganut Tuhan – sama keadaannya. Tetapi pada umumnya orang yang percaya kepada Tuhan dan pembalasan-Nya tidak begitu berani sebagaimana keberanian orang yang tidak ber-Tuhan. Karena orang yang tidak ber-Tuhan tidak ada penghalangnya dan tidak ada penahannya dari dalam jiwanya.

Orang yang percaya kepada Tuhan dan percaya juga kepada Agama Tuhan, lebih banyak lagi penghalang baginya daripada berbuat kejahatan. Ia takut pembalasan Tuhan di dunia ini. Ia takut pembalasan-Nya di Akhirat. Ia tidak senang walaupun hanya dimurkai oleh Tuhannya.

A.      Banyak juga orang yang tidak ber-Tuhan dan tidak beragama terhindar daripada berbuat kejahatan, karena kemanusiaan.

B.       Orang yang beragama dan ber-Tuhan lebih banyak terhindar daripada kejahatan disebabkan kemanusiaan, karena iapun manusia dan ditambah dengan baktinya kepaada Tuhannya dan kepada Agamanya.

A.      Jawaban Tuan tadi memberi arti bahwa manusia beserta perbuatannya yang baik dan yang jahat dibikin oleh Tuhan.

B.       Ya, betul begitu.

A.      Jika demikian, mengapa Tuhan adakan surga sebagai tempat balasan bagi orang yang kerjakan kebaikan, dan neraka sebagai tempat siksaan bagi orang yang berbuat kejahatan, dan apa gunanya Ia perintah itu dan larang ini, dan lain-lainnya?

B.       Sesudah memperhatikan dan memikirkan alam dan lainnya, yang berbentuk dan yang tidak berbentuk, yang dapat dilihat dan yang tidak dapat dilihat, yang dapat diketahui dengan pengetahuan biasa dan yang tidak diketahui melainkan dengan percobaan dan perhitungan, maka akal kami memaksa kami percaya bahwa Tuhan itu tidak dapat tiada bersifat “Maha Mengetahui”.

A.      Baiklah, apa maksud Tuan dengan sifat “Maha Mengetahui” itu?

B.       Maksud saya, bahwa Tuhan jadikan saya dan di dalam diri saya. Ia jadikan satu kekuatan untuk memilih sesuatu perbuatan yang baik atau yang jahat; dan sebelum menjadikannya dan sesudahnya, Tuhan tahu apa yang akan dipilih oleh kekuatan itu; oleh yang demikian, terpaksa percaya, bahwa semua pekerjaan saya, baiknya dan jahatnya adalah dari Tuhan.

A.      Apa salahnya jika Tuan percaya bahwa Tuhan jadikan di dalam badan Tuan satu kekuatan buat memilih kebaikan atau kejahatan, tetapi Tuhan sendiri tidak tahu apa yang akan dipilih oleh kekuatan itu, dan oleh yang demikianlah ia adakan neraka dan surga?

B.       Kalau saya percaya, bahwa sesuatu yang Tuhan jadikan itu Tuhan sendiri tidak tahu apa yang sesuatu itu akan berbuat, berarti Tuhan tidak bersifat “Maha Mengetahui”, bahkan sama dengan seorang pembikin sebilah pisau yang tidak tahu apa-apa yang bakal dipotong oleh pisau itu.

Saya lebih suka dan terpaksa – menurut pikiran – mempercayai bahwa semua perbuatan saya datangnya dari Tuhan, walaupun saya terpaksa mengaku bahwa saya tidak mengerti mengapa Tuhan yang membikin semua perbuatan saya, membikin juga surga dan neraka dan mengirim Agama yang mengandung suruhan dan larangan. Saya lebih ridlo membodohkan diri saya dengan kepercayaan yang baru saya sebut daripada mempercayai bahwa Tuhan saya bodoh, tidak tahu apa yang bakal terjadi dari kekuatan pemilih yang Ia telah jadikan di dalam diri saya.

Jelasnya, di dalam hal tersebut orang bisa beriman dua macam.

Pertama, seorang beriman bahwa Tuhan telah jadikan dia, dan telah jadikan surga dan neraka, dan telah kirim Agama yang berperaturan ini wajib dikerjakan dan itu tidak boleh dikerjakan. Dan ia beriman juga bahwa di dalam dirinya Tuhan telah adakan satu kekuatan untuk memilih kebaaikan atau kejahatan, dan ia percaya pula bahwa sebelum membikin kekuatan pemilih itu dan sesudahnya, Tuhan tahu apa yang akan dipilih oleh kekuatan itu. Ini berarti segala sesuatu, jahat dan baik tidak lain melainkan dari Tuhan.

Kedua, seseorang beriman bahwa Tuhan telah jadikan dia dan telah jadikan surga dan neraka, dan telaah jadikan ke dalam dirinya satu kekuatan buat memilih kebaikan atau kejahatan, dan ia beriman pula bahwa ketika membikin kekuatan pemilih itu dan sesudahnya, Tuhan tidak tahu apa yang akan dipilih olehnya. Ini berarti, bahwa kejahatan yang ia berbuat tidak boleh ia salahkan siapa-siapa melainkan dirinya sendiri, karena Tuhan sudah beri kepadanya satu perabot pemilih untuk ia gunakan menurut sekehendaknya dengan tidak masuk campur padanya pengaruh dari Tuhan, bahkan Tuhan tidak tahu.

Saya adalah dari golongan yang beriman secara pertama. Selalu orang bertanya kapada saya: Apa arti Tuhan sediakan perintah dan larangan, surga dan neraka apabila semua perbuatan tuan terbitnya tidak lain melainkan dari Tuhan?

Pertanyaan itu saya jawab, akal saya dengan tetap memaksa saya percaya:

I.            Bahwa diri saya dijadikan oleh Tuhan.

II.            Bahwa di dalam diri saya Tuhan ada jadikan satu kekuatan buat memilih jahat dan baik.

III.            Bahwa sebelum dan sesudah menjadikannya Tuhan tahu bahwa kekuatan itu akan  memilih beberapa banyak kejahatan atau beberapa banyak kebaikan.

IV.            Bahwa kalau Tuhan mau, niscaya bisa Ia jadikan kekuatan itu memilih kebaikan Sahaja.

V.            Bahwa Agama dan Rasul yang dikirim oleh Tuhan itu tidak kuat akal saya mendustakannya, dan saya percaya tidak siapa pun sanggup membuktikan kedustaanya.

VI.            Bahwa di Agama itu Tuhan ada wajibkan beberapa perkara, dan haramkan beberapa perkara, dan ada sediakan ganjaran untuk kebaikan dan kejahatan.

Dari itu maka akal saya mewajibkan beriman bahwa saya dan sekalian amal baik dan amal jahat saya adalah dari kehendak Allah, tidak dari lainnya, karena tidak ada apapun yang bisa bergerak jika tidak dengan kehendak-Nya; dan Bersama itu saya beriman pula bahwa Tuhan ada sediakan surga dan neraka untuk jadi tempat pembalasan orang-orang yang beramal baik dan jahat. Walaupun saya merasa bodoh, tidak mengerti mengapa Tuhan yang berbuat semua perbuatan saya telah sediakan pembalasannya bagi perbuatan-Nya sendiri.

Saya tidak malu jadi bodoh, mengaku bodoh atau merasa bodoh di dalam urusan tersebut, karena perkara yang saya tidak tahu di dalam dunia ada terlalu banyak.:

a.       Saya tidak tahu apa dia sebenarnya akal?

b.       Saya belum tahu apa yang dikatakan ruh kecuali satu kekuatan, apabila ia pisah dari saya, dikatakan saya mati?

c.        Sering saya hendak kerjakan satu kebaikan, tetapi dihalangi oleh satu kehendak lain dari diri saya sendiri, hingga saya tidak mengerti siapa dia “saya” itu? Saya heran, di waktu saya merasa menang maka di saat itu pula saya merasa kalah karena saya menang pada menolak kejahatan yang hendak saya kerjakan, tetapi saya kalah pada menghasilkan kejahatan yang saya hendak kerjakan!

d.       Saya tidak mengerti bagaimana orang yang dihiptonis bisa tahu apa yang terkandung di hati orang lain? Saya tidak mengerti bagaimana bisa ia jalankan oto (mobil) dengan tertutup rapat matanya? Saya tidak mengerti bagaimana ia bisa mengangkat benda berat yang tidak mampu diangkat oleh empat orang?

e.       Saya tidak mengerti mengapa Tuhan adakan penyakit dan adakan obatnya pula; dan adakan racun dengan penawarnya?

f.        Orang berkata, bahwa Tuhan jadikan ular buat memaakan tikus. Tetapi saya bertanya kepada saya: Mengapa Ia jadikan juga ular yang memakan kambing dan anak sapi? Mengapa Ia tidak jadikan tikus yang dengannya tidak perlu Ia jadikan ular pemakannya?

g.       Saya belum faham mengapa labu dan semangka yang licin Tuhan jadikan di bawah, sedang durian dan kelapa yang bisa membahayai Ia buahkan di atas?

h.       Saya tidak mengerti mengapa semangka dan kundru jauh lebih berat daripada pohonnya, sedang beringin begitu jauh beda dengan buahnya?

i.         Saya tidak dapatkan pikirkan apa gunanya Tuhan jadikan alam dengan segala isinya yang terlihat pertentangan di dalam urusannya, atas dan bawah, kanan dan kiri, bumi dan langit, siang dan malam, penyakit dan Penawar, kejahatan dan kebaikan, Jantan dan betina, laki-laki dan Perempuan, kuat dan lemah, hina dan mulia, manis dan pahit, dan lain-lainnya.



Klik untuk mengunduh "Adakah Tuhan?"




Lanjutkan membaca Tuhan pun Mesti Dijadikan.

Minggu, 07 Juli 2024

Tuhan Pun Mesti Dijadikan

 Oleh: A. Hasan


Sebelum melanjutkan membaca, ada baiknya anda flashback dahulu kepada tulisan sebelumnya: Manusia Dari Tanah

 

A.      Kami berkata, di azali yang tidak ada permulaan sudah ada sel-sel. Dan daripada sel-sel lah jadi sekalian benda yang di sekeliling, di atas dan di bawah kita atas jalan evolusi. Yaitu bergerak dan beredar tetap dengan berangsuran daripada satu keadaan ke keadaan yang lebih baik.

B.      Apakah sel-sel itu berkuasa, berjiwa, berakal, berkemauan? Apakah sel-sel itu bisa bermusyawarah antara satu dengan lainnya buat jadi sesuatu benda?

A.      Tidak.

B.      Jika demikian, tentu ada yang jadikan sel-sel itu. Maka apakah yang menjadikannya?

A.      Apabila Tuan bertanya begitu, saya pun hendak bertanya: Siapakah yang jadikan Tuhan?

B.      Memang Tuan berhak memajukan pertanyaan tersebut. Tetapi supaya kita sama-sama puas, maka lebih dahulu saya hendak membikin ta’rif atau definisi buat Tuhan. Tuhan itu ialah suatu Dzat Yang Tunggal, Yang Tidak Berpermulaan, Yang Hidup, Yang Maha Kuasa Berbuat Apa Saja Yang Ia Kehendaki, Yang Tak Dapat Kita Capai Dzatnya Dengan Pancaindera Kita, Yang Tidak Sama Dengan Makhluk Tentang Dzat-Nya dan Tidak Tentang Sifatnya yang Maha Mengetahui dengan cara yang tidak bersamaan dengan yang lainnya, Yang Maha Melihat dengan keadaan yang berlainan dari lainnya, Yang tidak Berkesudahan, yang akal kita mewajibkan ada-Nya dan memustahilkan tidak ada-Nya.

A.      Tuhan seperti yang tuan terangkan itu siapa yang menjadikannya?

B.      Tuhan yang begitu dzat dan sifatnya tidak boleh ditanya lagi siapa yang jadikan Dia. Karena kalau ada yang menjadikan Dia niscaya bukan Ia yang tidak berpermulaan, bahkan Ia berpermulaan. Sedang yang ada permulaan itu bukan Tuhan. Dan kalau ada yang menjadikan Dia, niscaya bukanlah Ia yang Maha Kuasa. Dan kalau ada yang menjadikan Dia, niscaya samalah Ia dengan lain-lain makhluk yang dijadikan daripada tidak ada kepada ada. Sedang telah nyata bagi kita semua bahwa makhluk itu bukan Tuhan, dan Tuhan itu bukan makhluk. Maupun Tuan terima adanya Tuhan atau tidak, dapatkah Tuan ingkari bahwa Dzat yang hidup, yang tunggal, yang azali, yang Maha Kuasa, yang Maha Sakti, Maha Mengetahui itu sekurangnya mesti bersifat seperti yang saya sifatkan!

A.      Tuan beranggapan bahwa Tuhan itu tidak berbentuk dan tidak dapat dicapai dengan panca indera. Dari itu bagaimanakah dapat Tuan sifatkan seperti tersebut?

B.      Saya sifatkan Tuhan sebagaimana yang telah lewat sesudah memperhatikan bekas-bekas kekuasaan-Nya yang di hadapan mata kita. Baiklah, Tuan sifatkan kejadian alam dari sel-sel yang berevolusi. Apakah Tuan sudah pernah saksikan satu kejadian dari mula-mula ia berevolusi hingga selesaai jadi benda itu?

A.      Tidak. Hanya dengan pikiran dan perhitungan saja. sel-sel yang jadi asal bagi sekalian benda di alam ini pun tidak berpermulaan sebagaimana Tuhan yang Tuan sifatkan. Maka apakah perbedaan antara Tuhan dengan sel-sel?

B.      Bedanya ialah bahwa Tuhan  itu berkuasa mengadakan apa sahaja yang Ia kehendaki daripada tidak ada kepada ada. Maupun dengan jalan evolusi ataupun tidak. Dan juga meniadakan akan sesuatu yang sudah ada.

Adapun sel-sel, menurut pengakuan Tuan-Tuan sendiri, tidak berkuasa. Hanya berevolusi beberapa masa yang panjang buatjadi anu dan anu. Yang tidak berkuasa tentu tidak bisa membikin apa-apa. Sedang berevolusi itu tidak berarti “membikin” apa-apa, hanya buat “jadi” apa-apa.

Maka nyatalah bahwa sel-sel, maupun sendiri-sendirinya atau sekelompok-kelompoknya, tidak berkuasa. Dari itu gerakan evolusinya perlu kepada penggerak dari luarnya, terutama buat jadi satu bentuk yang tertentu, lebih-lebih buat jadi satu benda berjiwa, jiwa mana diakui oleh Tuan dan penganut-penganut sel, bahwa pada asalnya tidak ada, karena yang ada pada azal tidak lain kecuali sel-sel.

Buat jadi telur cicak yang pertama sekali umpamanya, katakanlah perlu seribu juta sel-sel. Apakah seribu juta sel itu bermusyawarah untuk berevolusi dan jadi sebutir telur cicak? Tidak! Karena sel-sel tidak tidak mempunyai akal dan tidak pikiran. Jika demikian, gerak evolusinya bukankah dari luar? Siapakah dia penggerak atau penyebab gerakan evolusi itu kalau bukan Tuhan?

Seperkara yang aneh ialah, bahwa sel-sel yang tidak berjiwa, tidak berakal, tidak berkemauan, bisa berevolusi sendiri untuk jadi satu telur cicak jantan, umpamanya, yang jadi ashal bagi cicak-cicak berjiwa dan berkemauan yang akan datang sepanjang masa dengan tidak putus-putusnya; dan yang lebih mengherankan ialah ada segolongan sel-sel yang lain pula berevolusi dengan sendirinya dengan tidak berembug dan tidak bermusyawarat buat jadi telur cicak betina sebagai jodoh bagi telur cicak jantan, juga sebagai ibu bagi semua cicak yang akan ada di alam ini dengan tidak berkesudahan! 

Jumat, 28 Juni 2024

Manusia dari Tanah

 Oleh: A. Hasan

Sebelum melanjutkan membaca, ada baiknya anda flashback dahulu kepada tulisan sebelumnya: PEMBALASAN BERDASAR AGAMA dan PEMBALASAN BERDASAR PIKIRAN

 


Disini dibuat tanya jawab antara A dan B tentang kejadian manusia.

A: Dalam Qur’an, khabarnya, disebut kejadian manusia dari tanah, dari tanah liat, dari tanah yang berubah bau, dari tanah tembikar, dari air, dari yang hina. Maka tidakkah ini berarti bahwa Qur’an sendiri ragu-ragu pada menentukan asal kejadian manusia?

B: Qur’an tidak ragu-ragu di tentang itu. Ringkasnya Qur’an menerangkan kejadian manusia dari dua macam: Dari tanah dan dari air.

 

Dari Tanah:

Ayat-ayat yang menerangkan  manusia dijadikan dari tanah adalah surah-surah:

1.       Ali ‘Imran ayat 59

إِنَّ مَثَلَ عِيسَى عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya, "Jadilah" (seorang manusia), maka jadilah dia.

2.       Al-An-‘am ayat 2

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ طِينٍ ثُمَّ قَضَى أَجَلًا وَأَجَلٌ مُسَمًّى عِنْدَهُ ثُمَّ أَنْتُمْ تَمْتَرُونَ

Dialah Yang menciptakan kalian dari tanah, sesudah itu ditentukan-Nya ajal (kematian kalian), dan ada lagi satu ajal yang ditentukan (untuk berbangkit) yang ada pada sisi-Nya (yang Dia sendirilah menge­tahuinya), kemudian kalian masih ragu-ragu (tentang berbangkit itu).

3.       Al-A’raf ayat 12

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

Allah berfirman, "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis, "Saya lebih baik daripadanya; Engkau ciptakan saya dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah."

4.       Shaad ayat 71

إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِينٍ

(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah.”

5.       Alif Laam Miem As-Sajdah ayat 7 & 8

الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ وَبَدَأَ خَلْقَ الإنْسَانِ مِنْ طِينٍ

Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah.

6.       Al-Hijr 26, 28 dan 33

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, "Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.

قَالَ لَمْ أَكُنْ لأسْجُدَ لِبَشَرٍ خَلَقْتَهُ مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ

Berkata iblis, "Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.”

7.       Ar-Rahmaan 14

خَلَقَ الإنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ

Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar.

8.       Ash-Shaffaat 11

فَاسْتَفْتِهِمْ أَهُمْ أَشَدُّ خَلْقًا أَمْ مَنْ خَلَقْنَا إِنَّا خَلَقْنَاهُمْ مِنْ طِينٍ لازِبٍ

Maka tanyakanlah kepada mereka (musyrik Mekah), "Apakah mereka yang lebih kukuh kejadiannya ataukah apa yang telah Kami ciptakan itu?” Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat.

9.       Al-Mu’minun ayat 12

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ مِنْ سُلالَةٍ مِنْ طِينٍ

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.

 

Dari Air:

Ayat-ayat yang menerangkan manusia dijadikan dari air adalah surah-surah:

1.       Al-Furqan ayat 54

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيرًا

Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air, lalu Dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan musaharah dan adalah Tuhanmu Mahakuasa.

2.       Al-Mursalat ayat 20

أَلَمْ نَخْلُقْكُمْ مِنْ مَاءٍ مَهِين

Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina

3.       Ath-Thariq ayat 6

خُلِقَ مِنْ مَاءٍ دَافِقٍ

Dia diciptakan dari air yang terpancar

4.       As-Sajdah ayat 8

ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِنْ سُلالَةٍ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ

Dia menjadikan keturunannya dari sari pati air yang hina (air mani)

5.       An-Nur ayat 45

وَاللَّهُ خَلَقَ كُلَّ دَابَّةٍ مِنْ مَاءٍ فَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِي عَلَى بَطْنِهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِي عَلَى رِجْلَيْنِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِي عَلَى أَرْبَعٍ يَخْلُقُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian dengan dua kaki, sedangkan sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

6.       Al-Anbiya ayat 30

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلا يُؤْمِنُونَ

Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup.

 


Maka semua ayat yang menerangkan kejadian manusia dari tanah, dari tanah liat, dari tembikar, dari tanah yang berubah bau adalah maksudnya kejadian Adam – manusia yang pertama.

Adapun ayat-ayat yang menerangkan kejadian manusia dari air, air yang lemah, air yang memancar, air mani dan sebaangsanya, adalah maksudnya kejaadian manusia turunan bagi Adam.

Tanah liat, tembikar, tanah yang berubah bau – semua itu – tidak keluar daripada arti tanah.

Air hina, air memancar, air mani – semua itu – tidak terkeluar daripada arti nama air.

Jadi, walaupun sebutan berlainan, maksudnya tetap satu.

Saran Bacaan untuk Anda

Adab Murid dan Guru

Oleh: سعيد حوى   Murid memiliki adab dan tugas (wazhifah) lahiriyah yang banyak, di antara abab dan tugas seorang murid adalah tidak b...

Postingan Terpopuler